Metro7online.com.Juwana PATI -Selama beberapa pekan terakhir, Sungai Silugonggo di Kabupaten Pati mengalami kekeringan.
Hal itu berdampak langsung pada nasib nelayan tradisional dan petani di sekitarnya. Bahkan selama 70 tahun baru ini terjadi.
seorang nelayan lokal(tak mau di sebut namanya), saat di Konfirmasi Awak media mengaku hampir sebulan tidak bisa mencari ikan karena sungai yang biasanya menjadi sumber kehidupannya kini mengering.
Selama puluhan tahun bekerja sebagai nelayan, ini adalah pertama kalinya ia melihat Sungai Silugonggo tanpa air.
”Hidup 71 tahun baru kali ini saya melihat sungai ini kering. Ini jelas merugikan. Tanpa air, saya tidak bisa mencari ikan,”.
Sungai Silugonggo merupakan satu-satunya sumber penghasilan bagi Lasno.
Ia biasanya bisa menangkap 25 hingga 50 kilogram ikan per hari, yang menghasilkan pendapatan sekitar Rp 50 ribu hingga Rp 150 ribu.
Sayangnya, kekeringan membuatnya dan ratusan nelayan lain kehilangan mata pencaharian.
”Di sini ada ratusan nelayan, termasuk dari Mintobasuki, Banjarsari, Gadingrejo, hingga Bungasrejo. Sudah hampir sebulan ini kami tidak bisa mencari ikan,” ujar Lasno.
Hal serupa disampaikan oleh Pardi (45), nelayan tradisional asal Desa Banjarsari.
Ia mengungkapkan, lebih dari 27 nelayan di RT-nya menganggur akibat kekeringan ini.
”Sudah 3 minggu lebih kami tidak bekerja. Ini baru di RT saya, belum RT yang lain,” jelasnya.
Pardi menyalahkan pembangunan Bendung Karet sebagai penyebab kekeringan ini.
Menurutnya, sebelum bendung tersebut dibangun, mereka masih bisa menangkap ikan meski musim kemarau.
Namun, setelah bendung dioperasikan, aliran air terganggu dan tidak sampai ke wilayah mereka.
Tak hanya nelayan, para petani yang bergantung pada air Sungai Silugonggo juga terkena dampaknya.
Iskandar (56), petani asal Desa Banjarsari, khawatir tanaman padinya akan gagal panen karena tidak bisa mengairi sawah.
“Sudah masuk masa tanam dan pupuk sudah diberikan, tapi air tidak ada, jadi kami tidak bisa menyedot air dari sungai,” keluh Iskandar.
Iskandar juga berpendapat bahwa Bendung Karet menyebabkan air sungai terperangkap di muara Sungai Juwana, sehingga aliran dari hulu ke Sungai Silugonggo terhenti.
Petani asal Desa Banjarsari itu merasa khawatir tanaman padinya akan gagal panen akibat mengeringnya Sungai Silugonggo ini.
“Ini sudah mulai masa tanam. Sudah pupuk. Tapi air di sungai tak bisa disedot lagi karena belum ada airnya,” kata dia.
Ia menilai mengeringnya Sungai Silugonggo imbas pembangunan Bendung Karet. Menurutnya, bendung karet membuat air mengendap di muara sungai Juwana.
“Ini dampak Bendung Karet. Air bisa balik ke sini. Tidak ada sumber dari hulu,” sebutnya.
Bendungan proyek pemerintah pusat itu dikerjakan sejak 2023 lalu dan selesai pada 2024. Pada tahun 2024 ini, Bendung Karet pun mulai beroperasi.
Sebelum beroperasinya bendung karet, air masih mengalir di Sungai Juwana walapun musim kemarau.
Namun, usai beroperasi, air di Sungai Juwana mulai menyusut dan mengering. (metro7online.com./sbr Masyarakat juwana-nelayan Silugonggo Juwana).








